Menjawab 101 Masalah Nikah Beda Agama

Judul :Menjawab 101 Masalah Nikah Beda Agama
No. ISBN : 978-602-19745-0-6
Penuls :Ahmad Nurcholish
Penerbit : Harmoni Mitra Media
Tanggal terbit :Februari 2012
Jumlah Halaman :357 Halaman
Harga :Rp 74.000,

Buku ini membahas secara tuntas masalah dan problem seputar nikah beda agama (NBA). Dalam buku ini, Mas Ahmad Nurcholish membeberkan fakta dan data serta menjawab pertanyaan –pertanyaan masalah teologis, regulasi dan praksis pelaksanaan NBA secara lugas dan tegas. Seperti yang saya alami, bahwa sekat-sekat agama memang bukan suatu penghalang bagi penyatuan kasih-sayang dalam mahligai rumah tangga.
(Fery Mulyana, Pelaku Nikah Beda Agama)

Sejarah manusia dan kehidupan tidak akan pernah lepas dari problem dan solusi. Umat beragama mengenal pembawa kabar gembira dan solusi itu bernama Nabi. Dalam konteks laki-laki dan perempuan, tiga kebutuhan dasar: fitrah berpasangan, memiliki keturunan dan merasakan ketenangan jiwa masih dianggap bermasalah bila terjadi lintas agama dan iman. Buku Menjawab 101 Masalah NBA ini ditulis untuk itu. Ahmad Nurcholish jelas bukan Nabi. Tapi ia telah memposisikan diri sebagai pembawa kabar gembira dan solusi.
(Mohammad Monib, bersama Nurcholish menulis buku Kado Cinta Bagi Pasangan Nikah Beda Agama).

Buku ini akan sangat membantu memberikan pengetahuan dan pemahaman yang lebih luas kepada kita tentang Nikah Beda Agama (NBA). Meski saat ini saya baru pada tahap saling mengenal “pacaran” selama 2,5 tahun. Saya Islam dan Pasangan Katolik. Bagi saya pribadi sebagai calon pelaku NBA, buku ini adalah satu langkah nyata dalam usaha untuk membuka wawasan kita tentang “pluralisme” sebagai fitrah Tuhan kepada kita. Semoga buku ini  memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada kita semua. Karena pengetahuan yang kurang akan membuat kita terbelenggu dengan pola pikir bahwa NBA itu haram. Sesungguhnya kebenaran yang mutlak hanyalah milik-Nya semata.
(Ahmad Fathoni, Pukyong National University Busan, South Korea)

Karya ini semakin menyadarkan kita bahwa masalah NBA semakin tidak bisa dihindari bagi masyarakat majemuk seperti Indonesia. Jumlah 101 masalah merupakan cerminan kecil dari persoalan besar: kecilnya saja berjumlah 101 apalagi besarnya! Maka bagi pasangan yang ingin melaksanakan NBA, buku ini amat manis menjadi pengantar ringan.
(Nanang Tahqiq, MA, dosen Fak. Usuludin UIN Syarif Hidayatullah & Univ. Paramadina Jakarta).

Agama-agama mungkin berbeda-beda tapi menurut saya mereka bertemu dan sepakat dalam satu hal yaitu Cinta Kasih. So dalam hal ini saya sangat sepakat dengan apa yang telah Mas Nurcholish lakukan dengan pernikahannya. Buku ini adalah salah satu bentuk nyata dimana ia berbagi pengalaman kepada mereka yang hendak mengikuti jejaknya.
(Kris Tan, Ketua Umum Generasi Muda Khonghucu Indonesia – GEMAKU)

Pasangan beda agama di Indonesia mengalami banyak tantangan. Yang paling mendasar tentu kesiapan mental untuk menjalaninya di tengah resiko sosial yang beragam. Selanjutnya adalah tantangan teknis, tidak saja menjelaskan pada keluarga tentang pernikahan dengan dua ritual tapi juga terkait ketidaktahuan bagaimana mengurus administrasi pencatatan pernikahan beda agama. Baru sedikit lembaga keagamaan yang mau memfasilitasi pernikahan beda agama. Banyak yang memilih ikut agama pasangan untuk menyiasati kerumitan teknis pernikahan. Banyak pula yang harus merelakan hubungannya kandas karena tidak menemui titik terang. Namun, ada pula yang menemukan win-win solution. Buku ini hadir di tengah banyaknya pertanyaan yang sering muncul terkait nikah beda agama. Sebagian besar masalah yang dikupas bersifat praktis, tapi manfaatnya melampaui kepraktisan: membuka jalan bagi yang bersiap menjalani hubungan beda agama.
(Stella Hutagalung dan Wahyu Handoyo pengelola milis dan pegiat komunitas pernikahan beda agama)

“Buku ini menjawab bukan hanya 101 pertanyaan tentang NBA, tapi juga membuka mata hati setiap orang yang membaca untuk melihat realita NBA beserta permasalahan dan tantangannya, dikupas secara berani dan nyata.. senyata yang juga kami alami sebagai pelaku NBA ”
(Dicky Harwanto – Maria, pasangan beda agama, tinggal di Korea)

”Buku yang ditulis  Ahmad Nurcholish ini hendak menegaskan kepada publik bahwa tak ada yang perlu dipersoalkan dari pernikahan beda agama. Sekiranya nikah beda agama dianggap potensial menimbulkan konflik, maka menurut Nurcholish konflik pun bisa terjadi dalam pernikahan satu agama. Berdasar pada pengalaman dirinya, paling tidak sejauh ini, nikah beda agama yang dijalankan Nurcholish bersama sang istri tak retak karena soal perbedaan agama. Nikah beda agama bisa langgeng sebagaimana nikah satu agama. Ia pun bisa berujung pada perceraian seperti juga  kerap terjadi dalam pernikahan satu agama”
( Dr. Abdul Moqsith Ghazali, MA, Cendekiawan Muslim)

”Terkait dengan konteks sosio-politis, yang tercermin dalam Undang-Undang nomor 1/1974 tentang Perkawinan, negara Indonesia nyaris tidak memberi celah pada perkawinan campur-beda agama. Dalam konteks inilah buku ini bisa memberi secercah jalan keluar bagi mereka yang terhambat secara hukum sipil untuk menikah dengan penganut agama lain. Dengan kata lain, buku ini bisa menjadi bacaan yang bisa menjadi pembanding dalam menjalani perkawinan campur beda agama secara praktis, bukan teologis. Dari kacamata Gereja Katolik pula, isi buku ini, sejauh menyangkut ajaran Katolik, dipandang sebagai langkah pertama untuk memahami pandangan Katolik yang lebih luas”
(Dr. Al. Andang L. Binawan, pengajar  STF Driyarkara, dan anggota tribunal Keuskupan Agung Jakarta)

” Buku ini tidak saja memberi pencerahan namun juga memberi jalan keluar bagi pasangan beda agama. Dalam agama Buddha tidak ada larangan samasekali untuk nikah beda agama. Hambatan terutama datang dari pihak Negara yang seharusnya melindungi dan mengayomi segenap bangsa Indonesia, sesuai dengan UUD 1945. Setelah bergelut demikan lama terpaksalah salah satu pasangan tersebut “merelakan” ataupun “,menggadaikan” keyakinannya karena tidak dapat menembus benteng tekanan internal keluarga, komunitas agamanya dan Negara”
(Herman S. Endro, SH., Pandita (Buddhis)

“Nikah beda agama memang ruwet di negeri ini. Agama sebagai spirit pembebasan lalu jadi hukum positif yang mengukung seseorang dalam kotak-kotak pencatatan dalam pernikahan yang serba birokratik.  Tapi, dengan keberadaan buku ini, semoga keruwetan itu bisa teratasi. Minimal ada harapan untuk membuka kembali makna pembebasan agama-agama itu dari belenggu pengkotak-kotaan di negeri ini yang sebenarnya berkarakter terbuka, bhineka tunggal ika”
(Ahmad Baso, Anggota Komnas HAM)